Rabu, 10 April 2013

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS


Evi Sulistyorini
PEMBAHASAN
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A.    Pengertian Teori
Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan  sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian (Sumardi Suryabrata, 1990). Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and error). Adanya landasan teoritis ini merupakan ciri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.
Selanjutnya Sitirahayu Haditino (1999), menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting, bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan meramalkan gejala yang ada.
Mark 1963, dalam (Sitirahayu Haditino, 1999), membedakan adany tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:
1.    Teori yang deduktif: memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.
2.    Teori yang induktif: adalah cara menerangkan dari data ke arah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang positivistik inti dijumpai pada kaum behaviorist
3.    Teori yang fungsional: disini tampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.
Berdasarkan pandangan ini dapatlah disimpulkan bahwa teori dapat dipandang sebagai berikut.
1.      Teori menunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis. Hukum-hukum ini biasanya sifat hubungan yang deduktif.
Suatu hukum menunjukan suatu hubungan antara variabel-variabel empiris yang bersifat ajeg dan dapat diramal sebelumnya.
2.      Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bilangan tertentu. Di sini orang mulai dari data yang diperoleh dan dari data yang diperoleh itu datang suatu konsep yang teoritis (induktif)
3.      Suatu teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi. Di sini biasanya terdapat hubungan yang fungsional antara data dan pendapat yang teoritis.
Berdasarkan data tersebut di atas secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa, suatu teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau siste pengertian ini diperoleh melalui, jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak, dia bukan suatu teori.
Teori semacam ini mempunyai dasar empiris. Suatu teori dapat memandang gejala yang dihadapi dari sudut yang berbeda-beda, misalnya dapat dengan menerangkan, tetapi dapat pula dengan menganalisa dan menginterprestasi secara kritis (Habermas, 1968). Misalkan menlukiskan suatu konflik antar generasi yang dilakukan oleh ahli teori yang berpandangan emansipatoris akan berlainan dengan cara melukiskan seorang ahi teori lain tidak berpandangan emansipatoris.
Selanjutnya Hoy & Miskel (2001) mengemukakan contoh asumsi dalam bidang administrasi pendidikan.
1.      Administrasi merupakan generalisasi tentang perilaku semua manusia dalam organisasi
2.      Administrasi merupakan proses pengarahan dan pengendalian kehidupan dalam organisasi sosial
B.  Tingkatan Dan Fokus Teori
  Tingkatan teori : micro, meso dan macro.
  Micro level theory : small slice of time, space or a number of people. The concept are usually not very abstract.
  Meso level theory : attempts to link macro and micro levels or to operate at an intermediate level.
  Macro level theory : concerns the operation of larger aggregates such as social institutions, entire culture systems and whole societies. It uses more concepts that are abstract.
  Fokus teori : teori substatif, teori formal dan middle range theory.
  Subtantive theory is developed for a specific area of social concern such as delinquent gangs, strikes, disforce or res relation.
  Formal theory is developed for a brand conceptual area in general theory, such as deviance, socialization or power.
  Middle range theory are slightly more abstract than empirical generalization or specific hypotheses.  Middle range theories can be formal or substantive. Middle range theory is principally used in sociology to guide empirical inquiry.
Artinya:
·         Tingkatan teori : mikro , meso dan makro.
·         Teori  Mikro tingkat : kecil sepotong waktu, ruang atau sejumlah orang. Konsep biasanya tidak terlalu abstrak.
·         Meso teori tingkat: upaya untuk menghubungkan tingkat makro dan mikro atau untuk beroperasi pada tingkat menengah.
·         Tingkat Makro Teori: menyangkut pengoperasian agregat yang lebih besar seperti lembaga sosial, sistem seluruh budaya dan seluruh masyarakat. Ia menggunakan konsep lebih yang abstrak.
·         Fokus Teori: Teori substatif, Teori Dan resmi menengah teori  jangkauan.
·         Teori substantif yang dikembangkan untuk area spesifik dari kepedulian sosial seperti geng menunggak, pemogokan, disforce atau hubungan res.
·         Teori  formal dikembangkan untuk daerah merek konseptual dalam teori umum, seperti penyimpangan, sosialisasi atau kekuasaan.
·         Teori kisaran Tengah sedikit lebih abstrak dari generalisasi empiris atau hipotesis tertentu. Teori kisaran menengah dapat formal atau substantif. Teori kisaran Tengah terutama digunakan dalam sosiologi untuk membimbing penyelidikan empiris.
Teori yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melaui pengumpulan data adalah  teori subtantif, karena teori ini lebih focus berlaku untuk objek yang akan diteliti.
C. Kegunaan Teori Dalam Penelitian
Teori-teiri pendidikan dapat dibagi menjadi teori umum pendidikan dan teori khusus pendidikan. Teori umum pendidikan dapat dibagi menjadi filsafat-filsafat pendidikan dan Ausland pedagogic (studi pendidikan luar negeri).
Cooper and Schindler ( 2003 ), menyatakan bahwa kegunaan teori dalam penelitian adalah:
1.      Teori mempersempit kisaran sebenarnya kita perlu mempelajari.
2.      Teori menyarankan pendekatan penelitian yang mungkin untuk menghasilkan makna terbesar.
3.      Teori menyarankan sistem untuk penelitian untuk memaksakan pada data dalam rangka mengklasifikasikan mereka dalam cara yang paling bermakna.
4.      Teori merangkum apa yang diketahui tentang objek studi dan menyatakan keseragaman yang berada di luar pengamatan langsung.
5.      Teori dapat digunakan untuk memprediksi fakta lanjut yang harus ditemukan.
Selanjutnya dinyatakan bahwa, ciri-ciri teori yang baik menurut Mouly adalah :
1.      Sebuah sistem teoritis harus memungkinkan pengurangan yang diuji secara empiris.
2.      Sebuah teori harus kompatibel baik dengan observasi dan dengan teori sebelumnya divalidasi.
3.      teori harus dinyatakan dalam istilah yang sederhana, teori yang terbaik yang menjelaskan sebagian besar dalam bentuk yang paling sederhana.
4.      teori-teori ilmiah harus didasarkan pada fakta-fakta empiris dan hubungan.

Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas karena teori di sini sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis dan sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan teori dalam proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas apa yang akan dipakai.
Teori digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup atau konstruk variabel yang akan diteliti, untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian karena pada dasarnya hipotesis itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif, untuk mencandra dan membahas hasil penelitian sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah.
D. Deskripsi Teori
Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori dan hasil-hasilpenelitian yang relevan dengan variable yang diteliti. Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variable-variabel yang diteliti melalui uraian yang mendalam dan lengkap dari berbagai referensi. Variable-variabel yang tidak dapat dijelaskan dengan baik, baik dari segi pengertian maupun kedudukan dan hubungan antar variable yang diteliti, menunjukkan bahwa peneliti tidak menguasai teori dan konteks penelitian.
Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut ;
1.      Tetapkan nama variable yang diteliti, dan jumlah variabelnya.
2.      Cari sumber bacaan yang relevan dengan setiap variable yang diteliti
3.      Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topic yang relevan dengan setiap variable yang akan diteliti.
4.      Cari definisi setiap variable yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antaa satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan.
5.      Baca selouruh isi topic buku, analisa, renungkan dan buat rumusan dengan bahasa sendiri.
6.      Deskripsikan teori-teori yang telah dibacadari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri.
E. Kerangka Berpikir
            Uma  Sekaran, dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah dididentifikasi sebagai masalah yang penting.Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen.
Kerangka berfikir dalam suatu penelitian dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dengan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas dua variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti (Sapto Haryoko, 1999).
Langkah-langkah dalam menyusun kerangka pemikiran yang selanjutnya membuahkan hipotesis adalah sebagai berikut:
1.      Memantapkan variabel yang diteliti
Untuk menentukan kelompok teori apa yang perlu dikemukakan dalam menyusun kerangka berfikir untuk pengajuan hupotesis, maka harus ditetapkan terlebih dahulu variabel penelitiannya. Berapa jumlah variabel yang diteliti, dan apakah nama setiap variabel merupakan titik tolak untuk menentukan teori yang akan dikemukakan.
2.      Membaca Buku dan Hasil Penelitian (HP)
Setelah variabel ditentukan, maka langkah berikutnya adalah membaca buku-buku dan hasil penelitian yang relevan. Buku-buku yang dibaca dapat berbentuk buku teks, ensiklopedia, dan kamus. Hasil penelitian yang dapat dibaca adalah, laporan penelitian, Journal ilmiah, Skripsi, Tesis, dan Disertasi.
3.      Deskripsi Teori dan Hasil Penelitian (HP)
Dari buku dan hasil penelitian yang dibaca akan dikemukakan teori-teori yang berkenaan dengan variabel yang diteliti. Deskripsi teori berisi tentang definisi terhadap masing-masing variabel yang diteliti, dan kedudukan antara variabel satu dengan yang lain dalam konteks penelitian tertentu.
4.      Analisis Kritis terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Pada tahap ini peneliti melakukan analisis secara kritis terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang telah dikemukakan. Dalam analisis ini, peneliti akan mengkaji apakah teori-teori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu betul-betul sesuai dengan objek penelitian atau tidak.
5.      Analisis Komparatif terhadap teori dan hasil penelitian
Analisis komparatif dilakukan dengan cara membandingkan antara teori satu dengan yang lain, dan hasil penelitian satu dengan yang lain, sehingga peneliti dapat memadukan antara teori satu dengan yang lain, atau mereduksi jika dipandang terlalu luas.
6.      Sintesa / Kesimpulan
Selanjutnya peneliti dapat melakukan sintesa atau kesimpulan sementara. Perpaduan sintesa antara variabel satu dengan variabel yang lain akan menghasilkan kerangka berfikir.
7.      Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir yang dihasilkan dapat berupa kerangka berfikir yang asosiatif/hubungan maupun komparatif/perbandingan. Kerangka berfikir asosiatif misalnya “Jika guru kompeten, maka hasil belajar akan tinggi”.
8.      Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut selanjutnya disusun hipotesis. Bila kerangka berfikir berbunyi “Jika guru kompeten, maka hasil belajar akan tinggi” maka hipotesisnya berbunyi “ ada hubungan yang positif dan signifikan antara kompetensi guru dengan hasil belajar.
Selanjutnya Uma Sekaran (1992) mengemukakan bahwa kerangka berfikir yang baik, memuat hal-hal sebagai berikut:
1.      Variabel – variabel yang akan diteliti harus dijelaskan.
2.      Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menjelaskan dan menunjukan pertautan/hubungan antar variabel yang diteliti, dan ada teori yang mendasari.
3.      Diskusi juga harus menunjukan  dan menjelaskan apakah hubungan antar variabel itu positif atau negatif, berbentuk simetris,kausal atau interaktif (Timbal balik)
4.      Kerangka berfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram (Paradigma penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka pikir yang dikemukakan dalam penelitian.

F. Hipotesis
Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak setiap penelitian harus merumuskan hipotesis. Penelitian yang bersifat ekploratif dan deskriptif sering tidak perlu merumuskan hipotesis.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitan, dimana rumusan masalah peneliitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik dengan data.
Dalam hal ini, perlu dibedakan pengertian hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Hipotesis statistik itu ada bila penelitian bekerja dengan sampel. Jika penelitian tidak menggunakan sampel, maka tidak ada hipotesis statistik. Dalam suatu penelitian dapat terjadi ada hipotesis penelitian, tetapi tidak ada hipotesis statistik. Ingat bahwa, hipotesis itu berupa jawaban sementara terhadap rumusan masalah dan hipotesis yang akan diuji dinamakan hipotesis kerja. Sebagai lawannya adalah hipotesis nol (nihil), hipotesis kerja disusun berdasarkan teori yang dipandang handal, sedangkan hipotesis nol dirumuskan karena teori yang digunakan masih diragukan kehandalannya. Hipotesis kerja dinyatakan dalam kalimat positif dan hipotsis nol dinyaakan dalam kalimat negatif.
Contoh hipotesis penelitiannya
Kemampuan bahasa asing murid SLTA itu rendah (hipotesis deskriptif untuk popilasi, hipotesis ini sering tidak dirumuskan dalam penelitian sosial)
Contoh hipotesis penelitian yang mengandung hipotesis statistik :
Ada perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar dalam sampel dengan populasi. Prestasi belajar anak paling tinggi dengan nilai 6,5 (hipotesis deskriptif, sering tidak dirumuskan dalam penelitian).
            Dalam Hipotesis statistik, yag diuji adalah hipotesis nol, hipotesis yang menyatakan tidak ada perbedaan antara data sampel, dan data populasi. Yang diuji hipotesis nol karena peneliti tidak berharap ada perbedaan antara sampel populasi dan atau statistik dan parameter. Parameter adalah ukuran-ukuran yang berkenaan dengan populasi, dan statistik disini diartikan sebagai ukuran-ukuran yang berkenaan dengan sampel.
1.      Bentuk Bentuk Hipotesis
Bentuk-bentuk hipotesis penelitian sangat terkait dengan rumusan masalah penelitian. Bentuk hipotesis ada tiga yaitu sebagai berikut:
a.      Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskriptif merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variabel mandiri.
Contoh :
1)      Rumusan Masalah Deskriptif
a)      Berapa lama daya tahan berdiri karyawan toko lulusan SMK?
b)      Seberapa semangat belajara mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri?
2)      Hipotesis Deskriptif
Daya tahan berdiri karyawan toko lulusan SMK sama dengan 6 jam perhari (Ho). Ini merupakan hipotesis nol, karena daya tahan berdiri karyawan lulusan SMK yang ada pada sampel diharapkan tidak berbeda secara signifikan dengan daya tahan yang ada pada populasi. (angka 6 jam/hari merupakan angka hasil pengamatan sementara). Hipotesis alternatifnya adalah : Daya tahan karyawan toko lulusan SMK ≠ 600 jam. “Tidak sama dengan”. Ini bisa berarti lebih besar atau lebih kecil dari 600 jam
3)      Hipotesis Statistik (hanya ada bila berdasarkan data sampel)
Ho : µ = 6 jam/hari
Ha : µ ≠ 6 jam/hari
µ : adalah nilai rata-rata populasi yang dihipotesiskan atau ditaksir melalui sampel.

b.      Hipotesis Komparatif
Hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara tehadap rumusan masalah komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.
Contoh:
1)      Rumusan Masalah Komparatif
Bagaimana prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X bila dibandingkan dengan Perguruan Tinggi Y?
2)      Hipotesis Komparatif
Berdasarkan rumusan masal komparatif tersebut dapat dikemukakan tiga model hipotesis nol dan alternatif, sebagai berikut:
Hipotesis Nol:
1)      Ho : Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa perbedaan prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X dengan Perguruan Tinggi Y; atau terdapat persamaan prestasi belajar mahasiswa perbedaan prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X dengan Perguruan Tinggi Y, atau
2)      Ho : Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih besar atau sama dengan (≥) Perguruan Tinggi Y (“lebih besar atau sama dengan)” = paling sedikit).
3)      Ho : Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih kecil atau sama dengan (≤) Perguruan Tinggi Y (“lebih kecil atau sama dengan)” = paling besar).
Hipotesis Alternatif:
1)      Ha : Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih besar (atau lebih kecil) dari perguruan tinggi Y.
2)      Ha : Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih kecil dari pada (<) perguruan tinggi Y.
3)      Ha : Prestasi belajar mahasiswa Perguruan Tinggi X lebih besar dari pada (>)  perguruan tinggi Y.
3)      Hipotesis Statistik dapat dirumuskan sebagai berikut :
µ1           = rata-rata (populasi) produktivitas karyawan PT X
µ2           = rata-rata (populasi) produktivitas karyawan PT Y
 
1). Ho : µ1 = µ2
            Ha : µ1 ≠ µ2
2.) Ho : µ1 µ2
Ha : µ1 < µ2
3.) Ho : µ1 µ2
Ha : µ1 > µ2
                                                                                                    
c.        Hipotesis Asosiatif
Hipotesis assosiatif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
1)      Rumusan Masalah Asosiatif
Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan iklim kerja sekolah.
2)      Hipotesis Penelitian
Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan iklim kerja sekolah.
3)      Hipotesis Statistik
Ho : ρ = 0 ------ 0 berarti tidak ada hubungan.
Ha : ρ  ≠ 0 ------“Tidak sama dengan nol” berarti lebih besar atau kurang (-) dari nol berarti ada hubungan,
ρ = Nilai korelasi dalam formulasi yang dihipotesiskan.

2.      Paradigma Penelitian, Rumusan Masalah dan Hipotesis
Dengan paradigma penelitian, peneliti dapat menggunakan sebagai panduan untuk merumuskan masalah, dan hipotesis penelitiannya, yang selanjutnya dapat digunakan untuk panduan dalan pengumpulan data dan analisis. Pada setiap paradigma penelitian minimal terdapat satu rumusan masalah penelitian, yaitu masalah deskriptif. Berikut ini contoh judul penelitian, paradigma, rumusan masalah, dan hipotesis penelitian.

a.      Judul Penelitian
Hubungan antara gaya kepemimpinan Kepala Sekolah dengan prestasi belajar murid. (Gaya kepemimpinan adalah variabel independen (X) dan Prestasi belajar adalah variabel dependen (Y)).
b.      Paradigma Penelitian


 



c.       Rumusan Masalah
1)      Seberapa baik gaya kepemimpinan Kepala Sekolah yang ditampilkan? (Bagaimana X?)
2)      Seberapa baik prestasi belajar siswa? (Bagaimana Y?)
3)      Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan Kepala Sekolah dengan prestasi belajar siswa? (Adakah hubungan antara X dan Y?) Butiran ini merupakan rumusan masalah asosiatif.
4)      Bila sampel penelitiannya golongan guru golongan III dan IV, maka rumusan masalah komparatifnya adalah:
a)      Adakah perbedaan persepsi antara guru Golongan III, dan IV tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah?
b)      Adakah perbedaan persepsi antara guru Gol III, dan IV tentang prestasi belajar murid.


d.        Rumusan Hipotesis Penelitian
1)      gaya kepemimpinan yang ditampilkan Kepala Sekolah (X) ditampilkan kurang baik, dan nilainya paling tinggi 60% dari kriteria yang diharapkan.
2)      Prestasi belajar murid (Y) kurang memuaskan, dan nilainya paling tinggi 65.
3)      Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan prestasi belajar murid, Artinya makin baik kepemimpinan kepala sekolah maka akan semakin baik prestasi belajar murid.
4)      Terdapat perbedaan persepsi tentang gaya kepemimpinan antara Gol I, II, III.
5)      Terdapat perbedaan persepsi tentang prestasi kerja antara guru Gol  III dan IV.
Untuk bisa diuji dengan statistik, maka data ang didaptkan harus diangkakan. Untuk bisa diangkakan, perlu instrumen yang memiliki skala pengukuran. Untuk judul diatas ada dua instrumen, yaitu instrumen gaya kepemimpinan Kepala Sekolah dan prestasi belajar murid.
3.      Karakteristik Hipotesis yang Baik
a.       Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih.
b.      Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
c.       Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.



1 komentar: